Muktamar NU ke-35 di Jombang, KH Miftachul Akhyar Soroti Kemiskinan dan Kebodohan Umat

JOMBANG EXPOSE – Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar menyampaikan pesan tegas dalam pembukaan Muktamar Ke-35 NU di Jombang. Ia menyebut kemiskinan dan kebodohan sebagai dua persoalan besar yang dapat melemahkan kekuatan umat dalam menjalankan amar ma’ruf nahi munkar.

Pesan tersebut disampaikan Kiai Miftach saat memberikan Khutbah Iftitah Pembukaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Kamis (27/8/2026).

Di hadapan para peserta muktamar dan warga Nahdliyin, Kiai Miftach menegaskan bahwa persoalan ekonomi menjadi salah satu faktor penting yang harus mendapat perhatian serius.

“Sesungguhnya penyebab utama yang menghambat kekuatan umat untuk menjalankan amar ma’ruf nahi munkar serta menegakkan ajaran Islam adalah kemiskinan dan kelemahan di berbagai bidang, khususnya dalam bidang ekonomi,” ujarnya.

Menurut Kiai Miftach, lemahnya kondisi ekonomi dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan umat. Persoalan tersebut akan semakin berat apabila diikuti dengan merebaknya kebodohan di tengah masyarakat.

Ia menyebut al-jahlu atau kebodohan sebagai salah satu faktor besar yang dapat membawa umat pada kemunduran.

“Di antara faktor terbesar kemunduran yang telah diperingatkan Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah merebaknya kebodohan (al-jahlu),” tegasnya.

Kiai Miftach mengingatkan, masyarakat yang tidak memiliki pengetahuan memadai akan lebih mudah kehilangan kemampuan untuk memilah mana yang benar dan mana yang keliru. Bahkan, argumen yang keliru dapat diterima sebagai sebuah kebenaran.

“Dampaknya sungguh berbahaya, hingga sebagian orang tidak lagi mampu membedakan mana perkara yang berharga dan mana yang merusak, bahkan menerima argumen palsu (sufshathah) sebagai sebuah kenyataan,” lanjutnya.

Jangan Serahkan Urusan Agama kepada Orang yang Tidak Kompeten

Selain persoalan ekonomi dan kebodohan, Kiai Miftach juga menyoroti pentingnya kompetensi dalam kepemimpinan agama.

Baca Juga :  MBG Diterpa Keracunan Massal di Berbagai Daerah, Haruskah Program Dihentikan Sementara?

Ia mengingatkan para pemegang kebijakan agar tidak menyerahkan urusan keagamaan kepada orang yang tidak memiliki kapasitas keilmuan.

Menurutnya, keputusan maupun fatwa dari pihak yang tidak kompeten berpotensi menyesatkan masyarakat sekaligus menggerus kewibawaan agama.

Kiai Miftach kemudian mengutip peringatan Nabi Muhammad SAW mengenai kondisi ketika para ulama telah wafat, sementara masyarakat justru mengangkat pemimpin yang tidak memiliki pengetahuan agama yang memadai.

“Ini adalah peringatan keras bagi para pengambil kebijakan (wulatul umur) agar tidak menyerahkan posisi dan jabatan keagamaan kepada orang-orang yang jahil,” katanya.

“Ketika orang bodoh dijadikan pemimpin, fatwa dan kebijakan akan menyesatkan, serta mengikis marwah agama itu sendiri,” imbuhnya.

Ulama Diminta Menjaga Marwah Ilmu

Pengasuh Pondok Pesantren Miftachus Sunnah Surabaya tersebut juga mengingatkan para pemilik ilmu agar menjaga kehormatan dan fungsi ilmu yang dimilikinya.

Ia mengutip kalam sahabat Nabi, Abdullah bin Mas’ud RA, yang menekankan pentingnya menempatkan ilmu kepada orang yang tepat.

“Seandainya para pemilik ilmu menjaga ilmunya dan menempatkannya pada ahlinya, niscaya mereka akan menjadi pemimpin zamannya,” tuturnya.

Namun, ketika ilmu justru diserahkan kepada kepentingan duniawi, menurut Kiai Miftach, hal itu dapat membuat para pemilik ilmu kehilangan kehormatan di mata masyarakat.

Dorong Dakwah NU Masuk Lebih Jauh ke Dunia Digital

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, Kiai Miftach juga mengajak warga Nahdliyin memanfaatkan teknologi sebagai sarana dakwah.

Ia menilai pesan-pesan kebaikan dapat disampaikan melalui berbagai media, mulai dari tulisan hingga pesan yang disebarkan melalui ponsel dan internet.

“Maka bersemangatlah untuk melakukan apa yang dimudahkan bagimu, baik berupa kalimat yang engkau ingatkan, artikel yang engkau tulis, atau pesan melalui ponsel maupun internet yang engkau sebarkan,” pesannya.

Baca Juga :  Cak Imin Soroti Konflik PBNU Lima Tahun Terakhir: Jangan Ulangi Kesalahan, Bangun Kembali Ukhuwah

Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam Khutbah Iftitah Muktamar Ke-35 NU, khususnya di tengah perubahan pola komunikasi masyarakat yang semakin bergeser ke ruang digital.

Kiai Miftach: Jangan Berputus Asa

Menutup khutbahnya, KH Miftachul Akhyar mengajak seluruh warga Nahdliyin untuk tidak berputus asa menghadapi berbagai fitnah dan tantangan zaman.

Ia juga menekankan pentingnya menjaga persatuan dan tetap berada dalam jamaah.

Kiai Miftach mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menggambarkan pentingnya hidup dalam kebersamaan dan tidak berjalan sendiri-sendiri.

“Hendaklah kalian berjamaah, karena sesungguhnya serigala itu hanya memangsa domba yang menyendiri (terpisah dari rombongan),” ujarnya.

Ia kemudian berpesan agar warga Nahdliyin tetap teguh dalam menyebarkan nilai-nilai agama sesuai kemampuan masing-masing.

“Maka janganlah berputus asa dan jangan ragu-ragu dalam menyebarkan agamamu sesuai kemampuanmu,” pungkas Kiai Miftach.

Editor : A Javas

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *