Oleh: Redaksi/Opini
Ada sesuatu yang berubah dalam cara masyarakat memandang laptop.
Dulu, membeli laptop berarti mencari perangkat terbaru. Prosesor terbaru, RAM lebih besar, desain lebih tipis, layar lebih bagus dan tentu saja model keluaran terbaru menjadi daya tarik utama.
Sekarang pertanyaannya mulai berubah:
“Yang penting bisa bekerja, berapa harganya?”
Perubahan sederhana itu sebenarnya menggambarkan persoalan ekonomi yang jauh lebih besar.
Ketidakpastian ekonomi global, persaingan memperebutkan komponen akibat ledakan industri AI, persoalan rantai pasok dan tekanan harga memori membuat perangkat teknologi konsumen menghadapi tekanan baru.
Harga RAM dan SSD mengalami kenaikan tajam di pasar global pada 2026. Permintaan pusat data AI menjadi salah satu faktor penting karena industri tersebut membutuhkan memori dan storage dalam jumlah sangat besar.
Pada akhirnya konsumen biasa harus ikut membayar ongkos dari perlombaan teknologi tersebut.
Inilah ironi ekonomi digital.
AI dibangun dengan kebutuhan komputasi yang luar biasa besar, tetapi konsumen biasa justru berhadapan dengan laptop yang semakin mahal.
Bagi perusahaan teknologi raksasa, kenaikan biaya komponen mungkin masih dapat dikelola.
Bagi mahasiswa, guru, pekerja lepas atau pelaku UMKM, persoalannya berbeda.
Tambahan Rp1 juta atau Rp2 juta dalam harga laptop bukan angka kecil.
Ketika pendapatan masyarakat tidak naik secepat harga barang, maka konsumsi akan mencari jalan keluar.
Dan jalan keluar itu adalah pasar barang bekas.
Laptop bekas bukan lagi barang kelas dua
Ada kesalahan cara pandang yang selama ini melekat pada barang bekas.
Barang bekas sering dianggap sebagai pilihan karena seseorang tidak mampu membeli barang baru.
Padahal dalam kondisi ekonomi tertentu, membeli bekas justru bisa menjadi keputusan yang rasional.
Mengapa?
Karena teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada kebutuhan manusia.
Seorang mahasiswa yang hanya membutuhkan Microsoft Office, browser, aplikasi konferensi video dan perangkat lunak akademik tidak selalu membutuhkan laptop keluaran terbaru.
Seorang pelaku UMKM yang mengerjakan pembukuan dan pemasaran digital juga tidak harus memiliki laptop dengan prosesor generasi terbaru.
Laptop bisnis keluaran beberapa tahun lalu sering kali masih sangat memadai.
Karena itu, ketika laptop baru semakin mahal, laptop bekas menawarkan konsep yang sederhana:
membayar fungsi, bukan gengsi.
Sejumlah publikasi 2026 bahkan mencatat laptop bekas semakin dipandang sebagai pilihan strategis karena konsumen dapat memperoleh spesifikasi lebih tinggi dengan anggaran lebih rendah.
Pasar laptop bekas adalah cermin daya beli
Di sinilah kita perlu melihat persoalan laptop bukan semata sebagai persoalan teknologi.
Ini adalah persoalan daya beli.
Jika masyarakat semakin banyak berpindah dari barang baru ke barang bekas, pasar sebenarnya sedang mengirimkan pesan.
Pesannya sederhana:
konsumen masih membutuhkan barang tersebut, tetapi kemampuan membelinya semakin terbatas.
Karena itu, pertumbuhan pasar laptop bekas jangan buru-buru dibaca sebagai kemenangan bisnis barang second.
Ia juga bisa dibaca sebagai indikator bahwa konsumen sedang melakukan efisiensi.
Orang tidak berhenti bekerja.
Orang tidak berhenti belajar.
UMKM tidak berhenti melakukan digitalisasi.
Tetapi mereka mulai menghitung ulang setiap rupiah yang dikeluarkan.
Ekonomi digital ternyata memiliki sisi paradoks
Selama bertahun-tahun masyarakat didorong masuk ke ekonomi digital.
Sekolah membutuhkan perangkat digital.
UMKM didorong masuk marketplace.
Pemerintah mendorong digitalisasi pelayanan.
Pekerja dituntut semakin akrab dengan teknologi.
Namun di sisi lain, perangkat untuk masuk ke ekosistem digital itu sendiri semakin mahal.
Di sinilah kebijakan ekonomi perlu melihat persoalan secara lebih utuh.
Digitalisasi tidak cukup hanya menyediakan internet.
Tidak cukup hanya membangun aplikasi.
Tidak cukup hanya membuat program transformasi digital.
Masyarakat juga harus mampu membeli perangkat untuk mengaksesnya.
Jika harga laptop, komputer dan perangkat digital terus meningkat sementara pendapatan masyarakat tidak bergerak seimbang, maka akan muncul kesenjangan digital baru.
Bukan lagi antara orang yang memiliki akses internet dan tidak memiliki akses internet.
Tetapi antara mereka yang mampu membeli perangkat baru dengan mereka yang harus bertahan menggunakan perangkat lama.
Laptop bekas dan ekonomi sirkular
Namun, ada sisi positif yang tidak boleh diabaikan.
Maraknya pasar laptop bekas juga dapat menjadi bagian dari ekonomi sirkular.
Perangkat yang seharusnya menjadi limbah elektronik dapat diperpanjang masa pakainya.
Laptop lama diperbaiki.
RAM ditambah.
SSD diganti.
Baterai diperbarui.
Kemudian perangkat kembali digunakan oleh orang lain.
Ini jauh lebih masuk akal daripada budaya konsumsi yang terus memaksa masyarakat mengganti perangkat hanya karena muncul model terbaru.
Pasar laptop bekas karena itu bukan sekadar pasar barang murah.
Ia bisa menjadi mekanisme adaptasi ekonomi masyarakat sekaligus bagian dari upaya memperpanjang umur produk teknologi.
Yang mahal bukan hanya laptop
Pada akhirnya, persoalan laptop hanyalah sebuah contoh.
Ketika ketidakpastian global meningkat, dampaknya dapat masuk ke kehidupan masyarakat melalui berbagai pintu: harga pangan, energi, elektronik, kendaraan, hingga biaya pendidikan.
Laptop hanya salah satu barang yang memperlihatkan bagaimana guncangan global akhirnya tiba di meja belajar mahasiswa dan meja kerja pelaku UMKM.
Maka, ketika seseorang memilih membeli laptop bekas Rp3 juta daripada laptop baru Rp7 juta, jangan buru-buru menyebutnya sebagai konsumen yang tidak mampu mengikuti perkembangan teknologi.
Bisa jadi ia justru sedang melakukan sesuatu yang sangat rasional:
menghitung kemampuan ekonomi.
Sebab di tengah ketidakpastian, masyarakat tidak selalu membutuhkan barang terbaru.
Mereka membutuhkan barang yang cukup baik, cukup kuat dan cukup murah untuk tetap bisa bertahan.
Dan mungkin itulah alasan mengapa pasar laptop bekas kini semakin menarik.
Bukan karena masyarakat berhenti membutuhkan teknologi.
Justru karena teknologi semakin dibutuhkan, sementara harganya semakin sulit dijangkau.

