Shalawat Asyghil Menggema di Tengah Dinamika Sidang Pleno I Muktamar ke-35 NU

JOMBANG EXPOSE  — Lantunan Shalawat Asyghil terdengar di ruang Sidang Pleno I Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Gedung Serbaguna Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jumat (28/8/2026).

Lantunan shalawat tersebut muncul ketika persidangan mulai diwarnai sejumlah interupsi dari peserta. Forum yang sedianya membahas pengesahan jadwal dan tata tertib Muktamar berkembang menjadi ruang penyampaian pandangan serta keberatan dari sejumlah perwakilan wilayah dan cabang.

Sebelum lantunan Shalawat Asyghil menggema, beberapa peserta secara bergantian menyampaikan pandangan mereka terkait jalannya persidangan. Salah satunya Sekretaris PWNU Bali, Ahmadi, yang mengajak peserta mengikuti tahapan persidangan sebagaimana agenda yang telah disiapkan panitia.

Menurut Ahmadi, pembahasan mengenai perubahan jadwal maupun substansi lain masih dapat dilakukan melalui mekanisme persidangan yang tersedia. Karena itu, ia meminta peserta tetap mengikuti tahapan yang telah disepakati.

Namun, dinamika forum belum sepenuhnya mereda. Perwakilan PCNU Kabupaten Pasuruan turut menyampaikan kritik agar pimpinan sidang dapat menjalankan perannya secara adil dan berada di tengah seluruh kepentingan peserta.

Catatan serupa datang dari perwakilan PCNU Nusa Tenggara Timur. Ia mengingatkan agar jalannya persidangan tidak didominasi oleh wilayah atau cabang tertentu sehingga setiap peserta tetap memiliki ruang yang sama untuk menyampaikan pendapat.

Di tengah situasi tersebut, lantunan Shalawat Asyghil menjadi bagian dari suasana persidangan. Shalawat yang dikenal luas di kalangan warga Nahdlatul Ulama itu menggema di dalam ruangan ketika dinamika pembahasan berlangsung.

Sementara itu, Katib Syuriah PCNU Deli Serdang, Prizal, mengingatkan para peserta untuk kembali menempatkan kepentingan bersama sebagai pijakan utama dalam mengikuti Muktamar.

Ia menilai para muktamirin yang hadir merupakan orang-orang yang dipercaya menjalankan amanah organisasi. Karena itu, setiap perbedaan pandangan semestinya tetap ditempatkan dalam semangat musyawarah dan kebersamaan.

Baca Juga :  Mekanisme Pemilihan Ketua Umum PBNU Berubah, Muktamar ke-35 Sepakati Sistem AHWA

Sebelumnya, pimpinan Sidang Pleno I, Prof. Mohammad Nuh, juga mengingatkan peserta agar menyampaikan aspirasi dengan bahasa yang santun. Imbauan tersebut disampaikan untuk menjaga suasana persidangan tetap kondusif di tengah berbagai dinamika yang muncul.

Pleno I sendiri menjadi salah satu tahapan penting dalam Muktamar ke-35 NU. Selain membahas jadwal dan tata tertib, dinamika mengenai mekanisme serta tahapan pemilihan pimpinan NU turut menjadi perhatian peserta.

Di tengah perbedaan pandangan yang muncul, lantunan Shalawat Asyghil di ruang sidang seolah menjadi jeda yang menyejukkan suasana Muktamar, sekaligus mengingatkan para peserta untuk tetap mengedepankan ketenangan dan kebersamaan dalam menjalankan proses organisasi.

Kontributor : A Yanti

Editor : Abi Javas

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *