JOMBANG – Persiapan pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Jombang terus dimatangkan. Panitia lokal menggelar simulasi atau gladi kotor untuk memastikan seluruh petugas siap menjalankan tugas sekaligus menguji alur pelayanan peserta sesuai standar operasional prosedur (SOP).
Simulasi digelar di pos pendaftaran muktamirin, Sabtu (22/8/2026). Ketua Umum Yayasan Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas sekaligus Ketua Panitia Lokal Muktamar ke-35 NU, KH Abdurrozaq atau Gus Rozaq, turun langsung meninjau jalannya simulasi.
Menurut Gus Rozaq, gladi kotor menjadi tahapan penting menjelang pelaksanaan muktamar. Melalui simulasi tersebut, panitia dapat mengetahui kesiapan setiap divisi sekaligus mengidentifikasi berbagai persoalan yang masih perlu diperbaiki sebelum ribuan peserta dari berbagai daerah tiba di lokasi.
“Simulasi ini kami lakukan untuk memastikan seluruh personel memahami tugas dan fungsi masing-masing, termasuk alur pelayanan kepada para muktamirin,” ujar Gus Rozaq saat meninjau pos pendaftaran.
Secara umum, pelaksanaan simulasi berjalan cukup baik. Kendati demikian, panitia masih menemukan sejumlah catatan yang harus segera ditindaklanjuti.
Hasil evaluasi gladi kotor tersebut akan menjadi bahan penyempurnaan pada gladi bersih yang dijadwalkan berikutnya. Pemeriksaan juga akan dilakukan terhadap berbagai fasilitas pendukung, mulai dari tenda, posko pelayanan, hingga sejumlah titik vital yang berkaitan dengan kebutuhan peserta.
Tak hanya registrasi, panitia turut mengecek kesiapan penginapan, akomodasi, serta armada transportasi yang akan digunakan untuk mendukung mobilitas muktamirin selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Registrasi Muktamirin Gunakan RFID dan QR Code
Salah satu aspek yang menjadi perhatian serius adalah sistem registrasi peserta. Pada Muktamar ke-35 NU, panitia akan mengoptimalkan teknologi digital melalui Radio Frequency Identification (RFID) dan QR code.
Penerapan teknologi tersebut ditujukan untuk mempercepat proses pemeriksaan sekaligus memastikan identitas peserta sesuai dengan data yang telah terdaftar.
Gus Rozaq menjelaskan, data muktamirin akan disinkronkan dengan basis data resmi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Dengan sistem tersebut, proses verifikasi diharapkan dapat berlangsung lebih cepat dan akurat sejak peserta tiba di pos pendaftaran.
“Registrasi ini merupakan pintu pertama bagi seluruh peserta. Karena itu, proses validasinya harus benar-benar dilakukan dengan teliti,” tegasnya.
Menurutnya, digitalisasi registrasi bukan semata-mata untuk mempercepat pelayanan. Sistem tersebut juga menjadi bagian dari upaya panitia menata akses dan memastikan setiap peserta yang memasuki kawasan muktamar telah terdata secara resmi.
Peserta yang identitasnya tidak ditemukan atau tidak sesuai dengan basis data PBNU akan menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Panitia menegaskan, peserta yang tidak dapat diverifikasi secara resmi tidak diperkenankan memasuki area utama muktamar.
Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari pengamanan sekaligus untuk menjaga ketertiban selama pelaksanaan Muktamar ke-35 NU.
Dengan waktu pelaksanaan yang semakin dekat, panitia lokal terus melakukan pembenahan di seluruh lini. Setiap divisi diminta memastikan personel memahami prosedur dan mampu memberikan pelayanan secara cepat, tepat, serta terkoordinasi ketika para muktamirin mulai berdatangan ke Jombang.
(ay)

