Jombang Expose — Semarak karnaval budaya mewarnai ruas jalan utama Kabupaten Jombang. Lebih dari 70 peserta dari berbagai unsur, mulai dari instansi, perusahaan, lembaga pendidikan hingga perguruan tinggi, ambil bagian dalam pawai yang tidak hanya menampilkan kreativitas budaya, tetapi juga mengangkat potensi ketahanan pangan daerah.
Karnaval dimulai dari GOR Merdeka Jombang. Dari titik pemberangkatan tersebut, rombongan peserta bergerak menyusuri Jalan Gus Dur, kemudian melintasi Jalan A. Yani, berlanjut ke Jalan RE Martadinata, sebelum akhirnya mencapai garis finis di Gedung Kesenian Jombang.
Sepanjang rute, masyarakat tampak memenuhi sejumlah titik untuk menyaksikan iring-iringan peserta. Beragam kostum, dekorasi, kendaraan hias, kesenian, hingga kreasi hasil bumi menjadi bagian dari tontonan yang menyedot perhatian warga.
Puluhan Peserta, Beragam Kreasi
Lebih dari 70 peserta mengikuti karnaval dengan membawa identitas dan kreativitas masing-masing. Peserta berasal dari berbagai unsur, termasuk instansi pemerintahan, perusahaan, lembaga pendidikan, serta perguruan tinggi seperti Universitas Darul Ulum Jombang.
Keragaman peserta membuat karnaval tidak tampil dalam satu warna. Setiap rombongan membawa konsep tersendiri, mulai dari representasi budaya hingga kreasi yang mengangkat potensi lokal.
Salah satu yang mencuri perhatian adalah kreasi berbasis hasil bumi. Berbagai sayuran dan komoditas pertanian ditata menjadi ornamen dan bentuk artistik yang kemudian diarak sepanjang rute karnaval.
Gunungan dan rangkaian sayuran yang ditampilkan bukan sekadar dekorasi. Di balik bentuknya yang menarik, terdapat pesan mengenai pentingnya pertanian dan ketahanan pangan.
Karnaval dengan demikian menjadi ruang untuk memperkenalkan hasil bumi kepada masyarakat melalui cara yang lebih komunikatif dan mudah diterima, terutama oleh generasi muda.
Dari GOR Merdeka Menuju Pusat Kesenian
Dari GOR Merdeka, iring-iringan bergerak memasuki Jalan Gus Dur. Rangkaian peserta kemudian melanjutkan perjalanan menuju Jalan A. Yani dan Jalan RE Martadinata.
Salah satu titik yang memiliki makna tersendiri dalam perjalanan tersebut adalah kawasan Makam Pahlawan Jombang. Kehadiran iring-iringan karnaval di kawasan itu menghadirkan suasana yang kontras: di satu sisi jalan dipenuhi warna-warni kreativitas dan antusiasme masyarakat, sementara di sisi lain terdapat ruang yang menjadi pengingat atas jasa para pahlawan.
Dari Jalan RE Martadinata, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan hingga mencapai Gedung Kesenian Jombang sebagai titik akhir.
Rute tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana karnaval menghubungkan berbagai ruang penting di pusat kota, dari fasilitas olahraga, kawasan jalan utama, ruang penghormatan kepada pahlawan, hingga pusat kegiatan seni dan kebudayaan.
Bukan Sekadar Keramaian
Karnaval budaya idealnya tidak berhenti pada kemeriahan. Di balik kostum dan dekorasi, terdapat pesan mengenai identitas daerah, kreativitas, pendidikan, ekonomi, hingga ketahanan pangan.
Keterlibatan berbagai institusi juga menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang kolaborasi. Pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat dapat bertemu dalam satu agenda yang sama.
Kehadiran perguruan tinggi seperti Universitas Darul Ulum, misalnya, memperlihatkan bahwa kampus dapat mengambil peran dalam kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya berada di ruang akademik, tetapi juga dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang mempertemukan pendidikan dengan kehidupan masyarakat.
Begitu pula dengan keterlibatan perusahaan dan instansi. Kehadiran mereka dalam karnaval dapat menjadi bentuk partisipasi sosial sekaligus sarana memperkenalkan kontribusi dan identitas lembaga kepada masyarakat.
Ketahanan Pangan Menjadi Pesan Penting
Penggunaan sayuran dan hasil bumi dalam karnaval menjadi salah satu bagian yang patut mendapat perhatian. Di tengah perubahan gaya hidup dan semakin kuatnya budaya konsumsi, masyarakat perlu terus diingatkan bahwa pangan memiliki hubungan erat dengan keberlangsungan kehidupan.
Hasil bumi yang biasanya berada di sawah, kebun, atau pasar dapat diubah menjadi karya seni yang menarik. Pendekatan semacam ini membuat isu ketahanan pangan tidak disampaikan dalam bentuk kampanye yang kaku, melainkan melalui pengalaman visual yang dekat dengan masyarakat.
Karnaval pun menjadi semacam etalase potensi lokal. Masyarakat dapat melihat bahwa komoditas pertanian yang tumbuh di daerah memiliki nilai ekonomi sekaligus dapat menjadi bagian dari identitas budaya.
Kemeriahan yang Tetap Berbudaya
Fenomena karnaval budaya juga menjadi momentum untuk mengingat kembali seperti apa idealnya sebuah pawai di ruang publik. Hiburan tentu menjadi unsur penting, tetapi tidak seharusnya menghilangkan nilai budaya, edukasi, maupun kenyamanan masyarakat.
Penggunaan musik dan pengeras suara dalam pawai dapat menjadi bagian dari kemeriahan. Namun, volumenya tetap perlu mempertimbangkan kesehatan pendengaran, kenyamanan warga, ketertiban, dan aturan yang berlaku.
Karena itu, kritik terhadap fenomena sound horeg sebaiknya tidak diarahkan untuk menghakimi seluruh pelaku atau kegiatan pawai. Yang lebih penting adalah membangun kesadaran bahwa ruang publik merupakan milik bersama.
Karnaval tidak harus menjadi semacam “diskotik berjalan” untuk disebut meriah. Kreativitas kostum, seni pertunjukan, kendaraan hias, budaya lokal, hasil bumi, dan partisipasi masyarakat sudah mampu menciptakan tontonan yang menarik tanpa harus mengandalkan kebisingan berlebihan.
Apalagi jika sebuah kegiatan melibatkan anak-anak dan generasi muda. Hiburan yang sehat dan edukatif akan lebih memberikan pengalaman positif dibandingkan sekadar mengejar tingkat kebisingan atau euforia sesaat.
Menjadikan Karnaval sebagai Ruang Pendidikan Budaya
Karnaval budaya Jombang memperlihatkan bahwa perayaan di ruang publik dapat dikemas menjadi tontonan sekaligus tuntunan. Ada budaya yang diperkenalkan, ada hasil bumi yang diangkat, ada lembaga pendidikan yang berpartisipasi, dan ada masyarakat yang terlibat sebagai penonton maupun bagian dari atmosfer perayaan.
Lebih dari 70 peserta yang bergerak dari GOR Merdeka, menyusuri Jalan Gus Dur, Jalan A. Yani, Jalan RE Martadinata, melewati kawasan Makam Pahlawan, hingga finis di Gedung Kesenian Jombang, pada akhirnya bukan hanya menghadirkan sebuah iring-iringan.
Mereka membawa pesan bahwa budaya dapat dirayakan dengan cara yang kreatif, meriah, sekaligus bermakna.
Karnaval semacam inilah yang patut terus dikembangkan. Bukan sekadar siapa yang paling keras, paling besar, atau paling ramai, tetapi siapa yang mampu menghadirkan karya terbaik, menyampaikan pesan paling kuat, dan meninggalkan kesan positif bagi masyarakat.
Sebab ketika jalanan kota berubah menjadi ruang budaya, yang semestinya berjalan bukan hanya kendaraan dan peserta pawai, melainkan juga nilai, identitas, kreativitas, dan kebanggaan terhadap daerah sendiri.
(JE)








